REVIEW FILM "GURU BANGSA TJOKROAMINOTO"

REVIEW FILM "GURU BANGSA TJOKROAMINOTO"

Film "Guru Bangsa Tjokroaminoto" merupakan sebuah karya sinematik yang menggambarkan perjalanan hidup Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai tokoh pergerakan nasional Indonesia. Dengan mengangkat aspek sejarah dan sosial-politik, film ini berhasil menampilkan dinamika antara penguasa dan rakyat, perkembangan ideologi, serta realitas ekonomi-politik pada masa itu. Analisis film ini akan menitikberatkan pada relasi antara penguasa dan rakyat, ideologi yang berkembang, serta kondisi sosial-politik yang mempengaruhi gerakan Tjokroaminoto.

Film ini menggambarkan relasi antara penguasa kolonial Belanda dengan rakyat pribumi sebagai hubungan yang penuh ketidakadilan dan eksploitasi. Dari adegan penyiksaan penyadap karet hingga tindakan diskriminatif terhadap pribumi dalam keseharian mereka, ketimpangan ini ditampilkan secara gamblang. Salah satu adegan paling mencolok adalah ketika seorang petinggi Belanda menghina seorang pribumi yang menyajikan teh tanpa sarung tangan, mencerminkan pandangan rasis Belanda terhadap kaum pribumi. Hal ini memicu perlawanan dari Tjokroaminoto, yang dengan berani menuangkan teh secara paksa ke dalam gelas petinggi Belanda tersebut. Tindakan ini bukan sekadar perlawanan individu, tetapi juga mencerminkan keresahan dan aspirasi rakyat pribumi yang ingin mendapatkan hak dan martabat yang setara.

Dalam konteks gerakan Sarekat Islam, relasi ini semakin kompleks karena pemerintah Hindia Belanda menyadari pengaruh besar yang dimiliki oleh Tjokroaminoto dalam menggerakkan rakyat. Upaya mengadu domba antara pribumi dan Tionghoa yang dilakukan oleh pemerintah Belanda adalah salah satu cara untuk melemahkan persatuan rakyat. Namun, Tjokroaminoto dengan bijak mengingatkan masyarakat agar tidak terprovokasi, menunjukkan bahwa ia bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga seorang negarawan yang memahami pentingnya persatuan dalam perjuangan.

Film ini juga menampilkan berbagai ideologi yang berkembang pada masa itu, mulai dari Islamisme, sosialisme, hingga komunisme. Sebagai pemimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto mengusung semangat kebangkitan Islam sebagai alat perjuangan sosial dan politik. Namun, ia tidak menutup diri terhadap pemikiran lain. Ia menegaskan bahwa Islam bukan hanya agama, tetapi juga sistem yang dapat membawa keadilan sosial. Semboyan "sama rata, sama rasa" yang ia gaungkan mencerminkan semangat kesetaraan sosial dalam ajaran Islam.

Perdebatan ideologis semakin terlihat dalam diskusi antara Tjokroaminoto dengan murid-muridnya, seperti Semaoen dan Darsono. Sementara Tjokroaminoto menekankan pentingnya perjuangan tanpa kekerasan dan pendidikan sebagai sarana perubahan sosial, Semaoen lebih condong pada perjuangan agraria dan hak buruh, yang kemudian berkembang menjadi gerakan komunis. Perdebatan ini menjadi refleksi dari dinamika politik yang terjadi pada masa itu, di mana ideologi-ideologi besar mulai masuk dan mempengaruhi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Secara sosial, film ini menggambarkan bagaimana rakyat hidup dalam ketertindasan akibat sistem kolonial yang menindas. Para buruh, petani, dan pekerja kecil hidup dalam kemiskinan, sementara para priyayi masih mempertahankan posisi mereka dengan berafiliasi pada kekuasaan kolonial. Ketimpangan ini menjadi pemicu utama munculnya Sarekat Islam sebagai organisasi massa yang membela kepentingan rakyat kecil.

Dalam aspek politik, film ini menyoroti peran Volksraad sebagai forum politik bentukan Belanda yang memberikan ruang terbatas bagi kaum pribumi untuk menyuarakan pendapat mereka. Tjokroaminoto sempat menerima keberadaan Volksraad, namun hal ini menimbulkan kekecewaan di kalangan pendukungnya yang menganggap bahwa Volksraad hanya alat untuk meredam perlawanan rakyat. Konflik internal ini menggambarkan dilema yang dihadapi oleh pemimpin pergerakan nasional dalam memilih strategi perjuangan yang efektif.

Secara ekonomi-politik, film ini menunjukkan bagaimana eksploitasi kolonial menyebabkan penderitaan bagi rakyat pribumi. Keputusan Tjokroaminoto untuk mendukung pembentukan koperasi bagi petani menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya kemandirian ekonomi dalam perjuangan politik. Namun, ide ini tidak sepenuhnya diterima oleh semua pihak, terutama mereka yang lebih mengutamakan perjuangan agraria sebagai fokus utama.

Salah satu kekuatan film ini adalah penggambaran karakter-karakter pemuda yang kelak menjadi tokoh penting dalam sejarah Indonesia. Dalam rumah pondokan Tjokroaminoto, banyak pemuda belajar darinya, termasuk Semaoen, Darsono, dan Sukarno. Mereka adalah generasi muda yang nantinya akan membentuk arah perjuangan Indonesia sesuai dengan ideologi yang mereka anut.

Semaoen digambarkan sebagai seorang pemuda yang kritis dan radikal. Ia lebih condong ke arah perjuangan kelas dan hak buruh, yang kemudian membawanya ke dalam gerakan komunis. Perdebatan antara Semaoen dan Tjokroaminoto dalam film ini mencerminkan perbedaan pendekatan dalam perjuangan kemerdekaan, antara perjuangan berbasis agama dan perjuangan berbasis kelas.

Sukarno, meskipun perannya dalam film ini tidak terlalu dominan, digambarkan sebagai seorang pemuda yang banyak menyerap pemikiran Tjokroaminoto. Perkawinannya dengan putri Tjokroaminoto, Oetari, menunjukkan kedekatannya dengan sang guru. Sukarno kemudian mengembangkan ide-ide nasionalisme yang lebih luas, yang menjadi dasar perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Darsono juga merupakan tokoh penting yang berperan dalam dinamika pergerakan. Ia lebih condong pada pemikiran sosialisme, tetapi tetap memiliki hubungan baik dengan Tjokroaminoto. Perdebatan antara Darsono dan tokoh lain dalam Sarekat Islam menunjukkan betapa kompleksnya pergerakan nasional pada masa itu.

Kesimpulannya, film "Guru Bangsa Tjokroaminoto" bukan hanya sekadar biografi seorang tokoh nasional, tetapi juga sebuah refleksi dari kompleksitas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Relasi antara penguasa dan rakyat, pertarungan ideologi, serta kondisi sosial dan ekonomi-politik yang terjadi pada masa itu digambarkan dengan baik dalam film ini. Kehadiran para pemuda yang kemudian menjadi tokoh besar dalam sejarah Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan Tjokroaminoto tidak berhenti pada dirinya, tetapi diteruskan oleh generasi berikutnya. Film ini mengajarkan bahwa perjuangan untuk keadilan dan kemerdekaan harus dilakukan dengan pemikiran yang matang dan strategi yang tepat, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Tjokroaminoto dalam perjalanan hidupnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Human Rights and Foreign Policy (HAM dalam Hubungan Internasional: Week 2)

Review Film "The Burning Season: The Chico Mendes Story"

Fakta Tentang Yaman