REVIEW FILM "GURU BANGSA TJOKROAMINOTO"

REVIEW FILM "GURU BANGSA TJOKROAMINOTO" Film "Guru Bangsa Tjokroaminoto" merupakan sebuah karya sinematik yang menggambarkan perjalanan hidup Haji Oemar Said Tjokroaminoto sebagai tokoh pergerakan nasional Indonesia. Dengan mengangkat aspek sejarah dan sosial-politik, film ini berhasil menampilkan dinamika antara penguasa dan rakyat, perkembangan ideologi, serta realitas ekonomi-politik pada masa itu. Analisis film ini akan menitikberatkan pada relasi antara penguasa dan rakyat, ideologi yang berkembang, serta kondisi sosial-politik yang mempengaruhi gerakan Tjokroaminoto. Film ini menggambarkan relasi antara penguasa kolonial Belanda dengan rakyat pribumi sebagai hubungan yang penuh ketidakadilan dan eksploitasi. Dari adegan penyiksaan penyadap karet hingga tindakan diskriminatif terhadap pribumi dalam keseharian mereka, ketimpangan ini ditampilkan secara gamblang. Salah satu adegan paling mencolok adalah ketika seorang petinggi Belanda menghina seorang pribumi yan...

Review Film "The Burning Season: The Chico Mendes Story"

 Review Film "The Burning Season: The Chico Mendes Story" Dalam Konteks Gerakan Sosial

"The Burning Season: The Chico Mendes Story" adalah film yang mengisahkan perjuangan aktivis lingkungan dan pekerja karet, Chico Mendes, dalam melawan eksploitasi sumber daya alam dan penindasan terhadap kaum buruh di Brasil. Film ini menggambarkan dinamika gerakan sosial, latar belakang kemunculannya, tujuan yang ingin dicapai, serta bagaimana aspek ekonomi-politik berperan dalam perjuangan tersebut.

Gerakan Sosial

Gerakan sosial dalam film ini dapat didefinisikan sebagai upaya kolektif oleh kelompok pekerja penyadap karet dan masyarakat lokal untuk mempertahankan hak-hak mereka terhadap eksploitasi lahan dan tenaga kerja yang dilakukan oleh para pemilik modal. Gerakan sosial dalam film ini terbentuk sebagai respons terhadap ketidakadilan yang dialami oleh penyadap karet dan masyarakat pedesaan di Brasil. Sejak 1951, Chico Mendes kecil menyaksikan bagaimana para saudagar dan konglomerat memanipulasi hasil kerja para penyadap karet dengan mencurangi timbangan, sehingga para pekerja tetap dalam jeratan kemiskinan dan utang. Keadaan ini diperparah oleh praktik kekerasan terhadap mereka yang berusaha melawan, seperti seorang warga yang dibakar hidup-hidup karena mencoba membentuk serikat pekerja.

Pada tahun 1983, situasi semakin memburuk dengan maraknya pembakaran hutan untuk dijadikan peternakan. Serikat Pekerja Pedesaan yang dipimpin oleh Wilson Pinheiro dan Chico Mendes mulai melakukan perlawanan, tetapi menghadapi represi keras dari pemerintah dan konglomerat. Bentuk perlawanan yang digunakan adalah aksi damai, seperti menghadang penebangan hutan dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya persatuan.

Latar Belakang Kemunculan Gerakan Sosial

Gerakan sosial dalam film ini muncul sebagai respons terhadap eksploitasi yang terus-menerus terjadi di Brasil, terutama di wilayah Cachoeira. Sejak 1951, para penyadap karet hidup dalam kondisi penuh ketakutan, dengan upah rendah dan tanpa perlindungan hukum. Mereka bahkan dijadikan semacam budak modern, di mana satu-satunya pekerjaan yang tersedia bagi mereka adalah menyadap karet dengan kondisi yang sangat tidak menguntungkan.

Pada 1983, semakin banyak hutan yang dibakar, menyebabkan 340 keluarga kehilangan tempat tinggal. Serikat Pekerja Pedesaan mulai melakukan aksi untuk menghentikan deforestasi dan mengembalikan hak masyarakat atas lahan yang mereka tinggali dan garap. Pemerintah tidak mendukung perjuangan ini, justru bekerja sama dengan konglomerat dan peternak untuk menyingkirkan para aktivis.

Salah satu peristiwa penting dalam film ini adalah pembunuhan Wilson Pinheiro setelah rapat serikat pekerja. Pembunuhan ini tidak hanya bertujuan untuk menghilangkan pemimpin gerakan, tetapi juga sebagai bentuk teror terhadap masyarakat agar mereka tidak berani melawan. Namun, kejadian ini justru memperkuat semangat perlawanan, dengan Chico Mendes mengambil alih kepemimpinan serikat dan terus mengorganisir gerakan.

Tujuan Gerakan Sosial

Gerakan sosial dalam film ini memiliki dua tujuan utama: keadilan sosial bagi para penyadap karet dan pelestarian lingkungan. Chico Mendes menyadari bahwa eksploitasi yang dilakukan oleh para konglomerat tidak hanya merugikan pekerja tetapi juga menghancurkan ekosistem Amazon. Oleh karena itu, perjuangannya tidak hanya untuk menuntut kondisi kerja yang lebih baik, tetapi juga untuk menghentikan penggundulan hutan yang masif.

Salah satu bentuk perjuangan yang dilakukan adalah aksi damai untuk menghalangi penebangan hutan, di mana para penyadap karet dan keluarganya secara fisik menghadang alat berat tanpa menggunakan kekerasan. Selain itu, Chico Mendes juga berusaha mengedukasi masyarakat luas tentang bahaya deforestasi, termasuk melalui kerja sama dengan pembuat film dokumenter, Steven Kaye.

Chico Mendes mendapatkan perhatian internasional setelah film dokumenternya ditayangkan di Miami. Perhatian global ini menjadi momentum penting dalam perjuangannya, karena tekanan internasional memaksa pemerintah Brasil untuk mempertimbangkan kebijakan lingkungan yang lebih ketat.

Analisis Aspek Ekonomi-Politik dalam Gerakan Sosial

Film ini dengan jelas memperlihatkan bagaimana aspek ekonomi dan politik saling terkait dalam perjuangan sosial. Secara ekonomi, konglomerat dan peternak besar menguasai tanah dan sumber daya di Brasil, sementara pekerja penyadap karet hanya menjadi buruh dengan upah rendah dan tanpa hak atas tanah yang mereka tinggali. Sistem ini mencerminkan ketimpangan struktural di mana segelintir elite menguasai sumber daya, sementara masyarakat miskin tetap terjebak dalam siklus kemiskinan.

Selain itu, film ini juga menunjukkan bagaimana kepentingan ekonomi para konglomerat didukung oleh kebijakan politik yang tidak berpihak pada rakyat. Pembunuhan aktivis seperti Wilson Pinheiro dan Chico Mendes, serta kekerasan yang dilakukan aparat keamanan terhadap para pekerja, adalah bukti bahwa negara lebih berpihak pada pemodal daripada masyarakat kecil. Bahkan, upaya Chico Mendes untuk masuk ke dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai gubernur tidak berhasil karena lawannya, Galvao, membeli suara rakyat.

Namun, film ini juga memperlihatkan bahwa tekanan internasional dapat mengubah dinamika politik di tingkat nasional. Setelah film dokumenter tentang perjuangan Chico Mendes disiarkan secara luas, pemerintah Brasil mendapat tekanan dari dunia internasional untuk menghentikan pembakaran hutan. Pada 12 Maret 1990, pemerintah Brasil akhirnya mengumumkan bahwa 2,5 juta are wilayah sekitar Cachoeira akan dilindungi secara permanen dan dinamakan Suaka Alam Chico Mendes.

Meskipun demikian, keberhasilan ini datang dengan harga yang mahal, karena terbunuhnya Chico Mendes oleh Darli Alves dan anaknya, yang merupakan petinggi para peternak. Pembunuhan ini menjadi simbol bagaimana aktivisme lingkungan dihadapkan pada ancaman nyata dari kepentingan ekonomi yang kuat. Darli Alves dihukum 19 tahun penjara, tetapi setelah tiga tahun, ia buron dan belum tertangkap.

Kesimpulan

"The Burning Season: The Chico Mendes Story" adalah film yang menggambarkan dengan sangat baik bagaimana gerakan sosial dapat berkembang dari ketidakadilan ekonomi dan represi politik. Film ini tidak hanya menampilkan kisah perjuangan seorang aktivis, tetapi juga memberikan wawasan mendalam tentang hubungan antara eksploitasi sumber daya, konflik kelas, dan dampak lingkungan.

Kisah Chico Mendes menjadi simbol bahwa perubahan dapat terjadi melalui kesadaran kolektif dan aksi yang berkelanjutan, meskipun risiko yang dihadapi sangat besar. Perjuangannya membuktikan bahwa gerakan sosial yang kuat mampu menekan kebijakan pemerintah, mengubah kesadaran masyarakat, dan pada akhirnya, melindungi lingkungan yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Human Rights and Foreign Policy (HAM dalam Hubungan Internasional: Week 2)

Fakta Tentang Yaman